Ibu Yang Tak Pernah Mengeluh

Merasakan kelembutan dan ke tegasan seorang ibu ketika sedang memarahi untuk kebaikan yang memang harus dilakukan, aku pun menjawab pertanyaan seorang ibu yang sedang emosi dan marah, ”belum bu aku sedang memandangi awan yang membentuk gumpalah seperti hewan di atas langit”,

tangannya menunjuk ke atas arah langit, ibu malah menggelengkan kepala nya dan langsung mengusap kepala, dia menunduk sambil berkata, ”nak hari sudah sore jalanan mulai sepi orang tak ada yang lewat sebaiknya kamu mandi dulu ya”, dengan suara penuh kelembutan dan lirih yang sangat lembut membuat hati ini terasa sejuk, setelah dia megatakan seperti itu sambil menunduk dan mengusap kepala.

Bergegas masuk ke dalam dan mengambil handuk tergantung di atas paku yang sangat tinggi menurut tubuh yang mungil ini, loncat dan berusaha menggapai anduk itu namun apa daya tangan tidak sampai untuk menggapainya, lagi-lagi seorang ibu yang membantu untuk mengambilkannya, dengan rasa lelah itu pun aku tak pernah melihat ibu mengeluh untuk tetap membantu mengambilkan anduk itu.


sumber gambar: http://www.dakwatuna.com/2014/08/04/55306/potret-kasih-ibu/#axzz4Up6lYWEC

Setelah anduk di ambilkan ibu, dia memngalungkan nya di pundakku, bergegas ke kamar mandi dan tutup pintu yang terbuat dari tirai,  tak kuasa air nya dingin sekali sirami kepala dengan perlahan dan tak ada rasa kedinginan itu setelah air menyentuh bagian kepala. Langsung ku menyiramkannya dengan cepat  ke seluruh tubuh supaya tidak meraksakan kedinginan yang terlalu lama,mungkin  karena kalau kelamaan air tidak menyentuh tubuh malah terasa lebih dingin, ku ambil beberapa gayung, hampir lupa untuk membersihkan tubuh dengan sabun karena amat sangat dingin air yang menyentuh tubuh.

Ketika selesai mandi, baju pun telah siap untuk di pakai, yang tertata rapi di atas kasur tempat tidur, baju sudah di sediakan oleh ibu yang selalu menolongku, merasa tidak cocok dengan baju pilihan ibu, lalu buka lemari yang terkunci letakan kembali baju yang sudah di sediakan ibu, sebelum mengambil baju, teringat siapa yang membereskan baju di lemari sampai tertata rapi, itu adalah seorang ibu yang selalau membereskan nya setiap baju itu berantakan.

Berpikir lagi dan mengambil baju yang sudah di siapkan ibu tadi, karena mungkin ibu sangat lelah membereskannya, kurapihkan sedikit bagian yang tidak tertata rapi di dalam lemari, tiba-tiba suara adzan ashar terdengar di masjid  yang lumayan jauh untuk ditempuh sendiri. Tak lama setelah adzan terdengar di telinga yang begitu merdunya, bapak pulang dari pekerjaan jadi penjaga sekolah, ibu datang menyambut bapak dengan senyuman yang hangat di kedua pipi yang lesung itu, bapak tersenyum melihat ibu yang datang menyambutnya pulang kerja.

“Asalamualikum” sapa bapak sambil menghampiri ibu yang sedang menunggu bapak datang “walaikumsalahm” jawab ibu dengan nada yang merdu dan kelembutan nya dia mencium tangan bapak saat pulang kerja. Dia melepaskan jaket dan membawa tas nya untuk di gantungkan di paku rumah, bapak minta untuk di buatkan kopi sama ibu, ibu selalu menuruti apa yang di mau sama bapak,  sedangkan aku yang masih siap-siap mengganti baju langsung menghampiri bapak yang baru pulang kerja, biasanya bapak pulang kerja ga sampe sore begini.

Bapak sudah pulang dan waktu ashar sudah datang, dia mengajak  untuk sholat berjamaah dan mengambil wudhu, namun apa yang dilakukan, aku malah diam dan tidak bisa di suruh cepat ketika di suruh sholat, bapak langsung marah dan memukul tangan,  mungkin dia kesal dengan sikap yang susah di suruh sholat,  namun ada benarnya kalo tidak kena pukul untuk di suruh solat, di situ umur ku masih 4 tahun namun bapak mendidik melakukan kewajiban yang memang seharusnya dilakukan setiap waktu.

Tapi kalo bapak sedang tidak ada di rumah waktu sholat sering ku tinggalkan dan tak pernah dilaksanakan sewaktu pun, berpikiran masih kecil dan belum waktunya kewajiban sholat di laksanakan, tetapi mendidik dari kecil membuat kita terbiasa untuk melakukanya setiap waktu dan setiap saat. Dan aku pun merasakan sedikit demi sedikit karena sering di suruh dari kecil untuk melaksanakan sholat fardu namun tidak semua dilakukan kewajiban itu karena rasa malas dan masih kecil belum kewajiban sholat di laksanakan.

Aku langsung bergegas ke kamar mandi dan membuka keran,  basuh ke dua telapak tangan dan membaca doa, mengambil wudhu sangat terburu-buru karena air yang mengalir dikeran dingin seperti air es yang beku di kutub utara sana.  Setelah mengambil wudhu ku berlari menghampiri bapak yang sudah bersiap-siap menunggu kedatangan ku untuk menjadi mamum nya namun tidak dengan ibu dia sedang sibuk di dapur untuk membuatkan kopi buat bapak yang baru pulang kerja.

Bapak memanggil ibu di ajaknya untuk sholat berjamaah bersama, kita  yang sudah siap menunggu di tempat sholat  yang sempit, namun apa jawaban ibu itu sangat menyentuh hati  yang tak pernah mendengarnya sama sekali dan tanpa sepengetahuan. “Bapak sholat aja ibu sudah sholat kok tadi sebelum bapak pulang ibu udah sholat duluan”,rasa kagum kepada ibu yang sesibuk apapun di rumah dan tanpa rasa lelah dia masih tetap melaksanakan kewajiban yang memang harus dilakukan mungkin sewaktu aku tadi mandi dia sudah sholat duluan, aku pun tidak pernah menyadari nya kalo ibu sudah solat karena memang aku yang tak pernah mau melaksanakan sholat dan ibu  jarang banget menyuruh untuk sholat bareng.

Mungkin karena anak laki-laki dan dimanapun anak laki-laki itu harus jadi imam yang bisa mengatur semua keluarga di rumah, tetapi ibu hebatnya sesibuk apapun dia, dia tetap melaksanakan sholat fardu. Aku di suruh iqomah sama bapak untuk memulainya sholat langsung kumandangkan iqomah, iqomah sudah selesai bapak langsung takbir ikuti dari belakang belum tau apa-apa waktu umur ku tiga tahun tapi karena sering melihat bapak sholat aku bisa memahami nya sdikit demi sedikit.

Hafalan sholat pun aku tak bisa menghafalkan nya dan memang belum hafal untuk menghafal nya pun menurutku susah.  Selesai sholat cium tangan bapak dan bapak mengusap kepala, begitu senang nya punya bapak dan ibu bisa di sayang terus sama bapak dan ibu, lalu memeluknya, tapi tak tau kenapa bapak menetes kan air mata yang menetes di wajah, mungkin karena dia begitu sayang  karena aku anak terakhir dari empat bersaudara.
Share on Google Plus

About durahimendu.blogspot.com

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar: